#jquery-overlay { height: 500px; left: 0; position: absolute; top: 0; width: 100%; z-index: 90; } #jquery-lightbox { left: 0; line-height: 0; position: fixed; text-align: center; top: 7% !important; width: 100%; z-index: 100; } #jquery-lightbox a, #jquery-lightbox a:hover { border: none; } #jquery-lightbox a img { border: none; } #lightbox-container-image-box { background-color: #000; border-radius: 8px 8px 0 0; margin: 0 auto; max-height: 560px; max-width: 960px; position: relative; } #lightbox-container-image { padding: 10px; } img#lightbox-image { max-height: 540px; max-width: 940px; } #lightbox-loading { height: 25%; left: 0; line-height: 0; position: absolute; text-align: center; top: 40%; width: 100%; } #lightbox-nav { height: 100%; left: 0; position: absolute; top: 0; width: 100%; z-index: 10; } #lightbox-container-image-box > #lightbox-nav { left: 0; } #lightbox-nav a { outline: none; } #lightbox-nav-btnPrev, #lightbox-nav-btnNext { display: block; height: 98% !important; width: 49%; } #lightbox-nav-btnPrev { float: left; left: 10%; } #lightbox-nav-btnNext { float: right; right: 10%; } #lightbox-container-image-data-box { background-color: #000; border-radius: 0 0 8px 8px; font: 10px Verdana, Helvetica, sans-serif; line-height: 1.4em; margin: 0 auto; max-width: 940px; overflow: auto; padding: 0 10px; } #lightbox-container-image-data { color: #fff; padding: 0 10px; } #lightbox-container-image-data #lightbox-image-details { float: left; text-align: left; width: 70%; } #lightbox-image-details-caption { font-weight: 700; } #lightbox-image-details-currentNumber { clear: left; display: inline-block; padding-bottom: 1em; } #lightbox-secNav-btnClose { float: right; padding-bottom: .7em; width: 66px; }

Senin, 09 Desember 2013

Keajaiban dan Karma Pena Gersang



Mungkin, masih terlalu pagi untuk mengatakannya, tapi ini adanya tentang cerita yang tlah lama ku simpan pada secarik kertas usang kecoklatan. Semuanya tentang  kau yang sering menggerakkan penaku yang mulai gersang tak berinovasi. Berbeda dari sebelumnya, bahkan telah lama. Seingatku 2 tahun silam, bahkan sejak aku mulai menggoreskan penaku, tapi seketika ia tumpul tak bertinta, ujungnya patah, pangkalnya terbelah dua, tintanya tercecer, bahkan cair karena terkena rintik hujan yang mengikis keras ruang rinduku. apa lagi yang bisa kuharapkan? Walaupun kenyataan di depan mataku sepekat tinta pena ku, aku harus menerimanya. Tapi jika suatu saat, kisahmu berakhir dengannya, aku ingin kau mencari selotip dan menyatukan bangkai-bangkai penaku ataukah membantunya kembali menciptakan cerita terindah di masa depan.
Benar adanya tentang keajaiban dan karma berjalan bersamaan, hanya saja ia melewati jalur yang berbeda dan aku terlambat mempercayainya. Aku tau ini terlalu bodoh, namun aku mengakuinya. Ya di sini masih tersimpan kitab-kitab pengakuanku tentangmu, seolah-olah kau tidak peduli, biarkan saja, aku ingin meneruskannya, sesukaku, karena aku yang memiliki rasa ini, tapi jika ia membuat hujan meringis di tengah teriknya raja siang, berbaliklah kebelakang, aku akan meminjamkan bahuku untuk kau yang sebenarnya membuat penaku gersang tak berinovasi, bahkan selalu gagal untuk menajamkan tombak kebencianku padamu, bahkan aku bingung sendiri karena tombak itu terganti dengan sebuah ruang istimewa, tak seorang pun yang mampu menerobos pertahanannya kecuali kau… inilah yang disebut dengan keajaiban,  dan karmanya tak ada ruang untukku di sudut manapun, karena aku yang tlah membuatnya seperti ini, menghilangkan harapanmu, menjadikannya buih yang tak berarti dan seperti beling-beling yang menggores luka dalam nanah yang mendidih. Saat ini aku tau bagaimana menjadi dirimu. Ternyata sepahit ketika pangkal penaku terbelah dua. Itu yang ku rasa sekarang. Tapi ku teruskan karena akan ada keajaiban yang datang menemuiku. Aku percaya itu, meskipun kau sejauh bintang dan aku hanya tanah tempat berpijak.. aku ingin berharap lebih dari yang kau perkirakan, tapi jangan memilihku. Karena kau bukan tanaman yang mampu berdaptasi lebih cepat dari yang di bayangkan, kau adalah bintang. Bintang yang hanya bisa tersimpan di seruruh ruang yang kumiliki, meski tak sama tapi tekadku tak akan goyah sedikitpun, melihatmu menciptakan bulan sabit di bibirmu itu sudah cukup bagiku. Namun, sekali lagi jika bulan sabit itu berubah menjadi gerhana bulan, lihatlah ke belakang, aku akan meminjamkan pundak ku, sampai si tegar menyapamu, jikalaupun kau ingin pergi, pergilah dengan senyum itu sudah cukup bagiku.