Senin, 09 Desember 2013
Keajaiban dan Karma Pena Gersang
Mungkin, masih
terlalu pagi untuk mengatakannya, tapi ini adanya tentang cerita yang tlah lama
ku simpan pada secarik kertas usang kecoklatan. Semuanya tentang kau yang sering menggerakkan penaku yang mulai
gersang tak berinovasi. Berbeda dari sebelumnya, bahkan telah lama. Seingatku 2
tahun silam, bahkan sejak aku mulai menggoreskan penaku, tapi seketika ia
tumpul tak bertinta, ujungnya patah, pangkalnya terbelah dua, tintanya
tercecer, bahkan cair karena terkena rintik hujan yang mengikis keras ruang
rinduku. apa lagi yang bisa kuharapkan? Walaupun kenyataan di depan mataku
sepekat tinta pena ku, aku harus menerimanya. Tapi jika suatu saat, kisahmu
berakhir dengannya, aku ingin kau mencari selotip dan menyatukan
bangkai-bangkai penaku ataukah membantunya kembali menciptakan cerita terindah
di masa depan.
Benar adanya
tentang keajaiban dan karma berjalan bersamaan, hanya saja ia melewati jalur
yang berbeda dan aku terlambat mempercayainya. Aku tau ini terlalu bodoh, namun
aku mengakuinya. Ya di sini masih tersimpan kitab-kitab pengakuanku tentangmu,
seolah-olah kau tidak peduli, biarkan saja, aku ingin meneruskannya, sesukaku,
karena aku yang memiliki rasa ini, tapi jika ia membuat hujan meringis di
tengah teriknya raja siang, berbaliklah kebelakang, aku akan meminjamkan bahuku
untuk kau yang sebenarnya membuat penaku gersang tak berinovasi, bahkan selalu
gagal untuk menajamkan tombak kebencianku padamu, bahkan aku bingung sendiri
karena tombak itu terganti dengan sebuah ruang istimewa, tak seorang pun yang
mampu menerobos pertahanannya kecuali kau… inilah yang disebut dengan
keajaiban, dan karmanya tak ada ruang
untukku di sudut manapun, karena aku yang tlah membuatnya seperti ini,
menghilangkan harapanmu, menjadikannya buih yang tak berarti dan seperti beling-beling
yang menggores luka dalam nanah yang mendidih. Saat ini aku tau bagaimana
menjadi dirimu. Ternyata sepahit ketika pangkal penaku terbelah dua. Itu yang
ku rasa sekarang. Tapi ku teruskan karena akan ada keajaiban yang datang
menemuiku. Aku percaya itu, meskipun kau sejauh bintang dan aku hanya tanah
tempat berpijak.. aku ingin berharap lebih dari yang kau perkirakan, tapi
jangan memilihku. Karena kau bukan tanaman yang mampu berdaptasi lebih cepat
dari yang di bayangkan, kau adalah bintang. Bintang yang hanya bisa tersimpan
di seruruh ruang yang kumiliki, meski tak sama tapi tekadku tak akan goyah
sedikitpun, melihatmu menciptakan bulan sabit di bibirmu itu sudah cukup
bagiku. Namun, sekali lagi jika bulan sabit itu berubah menjadi gerhana bulan,
lihatlah ke belakang, aku akan meminjamkan pundak ku, sampai si tegar
menyapamu, jikalaupun kau ingin pergi, pergilah dengan senyum itu sudah cukup
bagiku.
Langganan:
Postingan (Atom)