#jquery-overlay { height: 500px; left: 0; position: absolute; top: 0; width: 100%; z-index: 90; } #jquery-lightbox { left: 0; line-height: 0; position: fixed; text-align: center; top: 7% !important; width: 100%; z-index: 100; } #jquery-lightbox a, #jquery-lightbox a:hover { border: none; } #jquery-lightbox a img { border: none; } #lightbox-container-image-box { background-color: #000; border-radius: 8px 8px 0 0; margin: 0 auto; max-height: 560px; max-width: 960px; position: relative; } #lightbox-container-image { padding: 10px; } img#lightbox-image { max-height: 540px; max-width: 940px; } #lightbox-loading { height: 25%; left: 0; line-height: 0; position: absolute; text-align: center; top: 40%; width: 100%; } #lightbox-nav { height: 100%; left: 0; position: absolute; top: 0; width: 100%; z-index: 10; } #lightbox-container-image-box > #lightbox-nav { left: 0; } #lightbox-nav a { outline: none; } #lightbox-nav-btnPrev, #lightbox-nav-btnNext { display: block; height: 98% !important; width: 49%; } #lightbox-nav-btnPrev { float: left; left: 10%; } #lightbox-nav-btnNext { float: right; right: 10%; } #lightbox-container-image-data-box { background-color: #000; border-radius: 0 0 8px 8px; font: 10px Verdana, Helvetica, sans-serif; line-height: 1.4em; margin: 0 auto; max-width: 940px; overflow: auto; padding: 0 10px; } #lightbox-container-image-data { color: #fff; padding: 0 10px; } #lightbox-container-image-data #lightbox-image-details { float: left; text-align: left; width: 70%; } #lightbox-image-details-caption { font-weight: 700; } #lightbox-image-details-currentNumber { clear: left; display: inline-block; padding-bottom: 1em; } #lightbox-secNav-btnClose { float: right; padding-bottom: .7em; width: 66px; }

Senin, 09 Desember 2013

Keajaiban dan Karma Pena Gersang



Mungkin, masih terlalu pagi untuk mengatakannya, tapi ini adanya tentang cerita yang tlah lama ku simpan pada secarik kertas usang kecoklatan. Semuanya tentang  kau yang sering menggerakkan penaku yang mulai gersang tak berinovasi. Berbeda dari sebelumnya, bahkan telah lama. Seingatku 2 tahun silam, bahkan sejak aku mulai menggoreskan penaku, tapi seketika ia tumpul tak bertinta, ujungnya patah, pangkalnya terbelah dua, tintanya tercecer, bahkan cair karena terkena rintik hujan yang mengikis keras ruang rinduku. apa lagi yang bisa kuharapkan? Walaupun kenyataan di depan mataku sepekat tinta pena ku, aku harus menerimanya. Tapi jika suatu saat, kisahmu berakhir dengannya, aku ingin kau mencari selotip dan menyatukan bangkai-bangkai penaku ataukah membantunya kembali menciptakan cerita terindah di masa depan.
Benar adanya tentang keajaiban dan karma berjalan bersamaan, hanya saja ia melewati jalur yang berbeda dan aku terlambat mempercayainya. Aku tau ini terlalu bodoh, namun aku mengakuinya. Ya di sini masih tersimpan kitab-kitab pengakuanku tentangmu, seolah-olah kau tidak peduli, biarkan saja, aku ingin meneruskannya, sesukaku, karena aku yang memiliki rasa ini, tapi jika ia membuat hujan meringis di tengah teriknya raja siang, berbaliklah kebelakang, aku akan meminjamkan bahuku untuk kau yang sebenarnya membuat penaku gersang tak berinovasi, bahkan selalu gagal untuk menajamkan tombak kebencianku padamu, bahkan aku bingung sendiri karena tombak itu terganti dengan sebuah ruang istimewa, tak seorang pun yang mampu menerobos pertahanannya kecuali kau… inilah yang disebut dengan keajaiban,  dan karmanya tak ada ruang untukku di sudut manapun, karena aku yang tlah membuatnya seperti ini, menghilangkan harapanmu, menjadikannya buih yang tak berarti dan seperti beling-beling yang menggores luka dalam nanah yang mendidih. Saat ini aku tau bagaimana menjadi dirimu. Ternyata sepahit ketika pangkal penaku terbelah dua. Itu yang ku rasa sekarang. Tapi ku teruskan karena akan ada keajaiban yang datang menemuiku. Aku percaya itu, meskipun kau sejauh bintang dan aku hanya tanah tempat berpijak.. aku ingin berharap lebih dari yang kau perkirakan, tapi jangan memilihku. Karena kau bukan tanaman yang mampu berdaptasi lebih cepat dari yang di bayangkan, kau adalah bintang. Bintang yang hanya bisa tersimpan di seruruh ruang yang kumiliki, meski tak sama tapi tekadku tak akan goyah sedikitpun, melihatmu menciptakan bulan sabit di bibirmu itu sudah cukup bagiku. Namun, sekali lagi jika bulan sabit itu berubah menjadi gerhana bulan, lihatlah ke belakang, aku akan meminjamkan pundak ku, sampai si tegar menyapamu, jikalaupun kau ingin pergi, pergilah dengan senyum itu sudah cukup bagiku.

Senin, 25 November 2013

Sajak Matematika


Saat pertama kita bersua dalam frekuensi harapan
Muncul persamaan akar kuadrat dihatiku
Kau layaknya integral parsial yang sangat sulit tuk kuselesaikan,
Aku takut jika pada waktunya tiba,aku tidak dapat menyelesaikan  turunannya .
Sementara kau terus memberikan sinyal-sinyal vektor, akh bagaimana ini?
Aku bertanya pada trigonometri dan sudut-sudut istimewanya tapi …
Lagi, tak ku temukan kau berada di sana…
kau ter-faktor-kan bersama dengan limit fungsi aljabar
yang menghasilkan nilai limit cinta tak hingga, aku semakin bingung karena diantara kita banyak pertidaksamaan eksponen yang tercipta
tapi aku yakin grafik fungsi akan menyatukan kita..
ia bahkan meyakinkanku bahwa kaulah keseluruhan rata-rata di hatiku.



Lalai


aku terpekur saat ribuan titik masuk ke bola mataku
menjadikannya segumpal tangis kekecewaan
aku mencoba menceritakan keluh kesah kepedihanku
tak ada yang ingin mendengar
tak ada yang peduli
      ku pendam sendiri,merobek jantungku
      ku pendam sendiri,menjatuhkan titik-titik air
      akan kuceritakan,tak ada yang mendengar
      aku tak lagi berarti bagi mereka
ya,,
ini salahku..
kesalahan yang memurkai kehadiranku
kanvas kekecewaan terlukis indah bak panorama alam
kelalaian.,
kelalaian itu menghadirkan segurat penyesalan dibatin kecilku
entahlah,aku terkurung dibalik penyesalan yang tak pernah berarti.
Menyerah ? ataukah putus asa ?
TIDAKKK !!!
            Akan ku tulis scenario baru mimpi yang
sempat terbengkalai
karena kelalaian menyergapku dan tak berdaya hingga sesal hinggap menumbuhkan kecewa tak berujung…

Rindu yang gagal


Lemah aku dalam laraku
Rindu menyergap jemari hati
Berlabuh disanubari
Mengarungi samudera cintaku
Resah gelisah menyembunyikan segumpal awan diwajahku
Melelehkan sebongkah Kristal putih
Aku adalah waktu dalam bayangmu
Yang terselubung diantara jarum waktu hidupmu
Rindu yang kian melebur dan bercadas pada batu yang kau jadikan perumpaamaan jauuuhhh,,,
Tak dapat ku sentuh
Tak mampu ku genggam
Hingga salju meninggi dan bulan berlepasan cahayanya
Tapi,..
entahlah,aku disini gagal mencoba menajamkan runcing kerinduanku


Terumbu karang


aku berjalan diantara himpitan terjal yang menghimpit batinku
mencoba mencari setitik canda tawa yang terhempas entah kemana
aku,aku tersesat disbuah dunia yang tak pernah kuinginkan
dunia yang tlah mengubah diriku
menjadi sekeping luka yang tak pernah dibekukan oleh benang-benang fibrin
            aku…
            aku  bingung dalamribuan Tanya yang menjarah senyum mungilku
            kemanakah embun pagi yang slalu menyejukkan palung jiwaku ?
            kemanakah sang mentari yang slalu menemani hari-hari istimewaku?
            mengapa hanya mendung dan kabut pekat yang kutemukan
mengapung diantara gelombang kebimbanganku ?
ya Tuhan…
kehidupan apa ini ?
mengapa smuanya menjadi kosong?
kembalikan embun itu padaku
aku…
aku tak ingin  mendung itu menggantikannya didasar jiwaku
jangan lagi kau Tanya mengapa ?
karena embunlah yang mengajariku
tentang arti kehidupan

Kemarau


Musim kemarau mulai menyambar alam
Dedaunan hijau nan elok memasuki perangkapnya
Tak satu pun yang tersisa
Hanya ranting-ranting kering kerontang
terdengar merintih meminta belas kasih
            kemarau ……
            jangan hancurkan tubuhku
            aku juga bernilai bagai hembusan nafas manusia
kemarau…
katakan pada TUHAN dan langit –langit keindahan
kembalikan jiwaku,
agar manusia tak muak denganku
membenciku dengan amarah yang menghujam batin mereka
            kemarau …
            aku ingin seperti anak cucu adam
kembali bercengkrama dan tertawa lepas di tanah air ku tempatku jaya
kemarau
kau sungguh kejam
tidakkah engkau perhatikan sbuah ulaman air mata mengucur deras
dan…
tergores rapi di tubuhku
            tahukah kau ?
            sribu daun tlah gugur bersama kepunahan
            kemarau,kau membuatku patah arang
            kini aku tak lagi bernilai….

Hari yang kelabu


Bias-bias mentari tlah menggugah hatiku
Ketika rasa sesal sesakkan dadaku
Akankah peri kecilku kembali menari ?
Sedang duniaku tlah berkabung masa
Ku tahu bintang diatas sana menertawakanku
Tak perlu ku sesali,garis tanganku tlah tergores
            Hariku adalah hari yang kelabu
            Andai saja kau tahu,..
            Terlalu sakit jika kau jauh
Awan hadirkan bayangmu
Desiran angin,bisikkan namamu
Mentari pun hadirkan senyumanmu
Ya TUHAN ….
Akankah hari ini kan brubah ? ataukah slamanya kan menjadi hari yang kelabu ,,..??
            AKU tahu,,,
            Tak ada yang ingin mengisi relung hati
            Karena keberanianku tlah mati
            Terkikis oleh rasa bersalah
Tapi,tak ingin ku menyerah meski hariku adalah hari yang kelabu…



Pil setan


Ketika pil setan memburamkan masa
Menghancurkan benteng iman
Melenakkan dan menyiksa raga yang tinggal Satu
Memenangkan kenikmatan sesaat
      Sungguh suatu kebodohan insan
      Ketika mata kepala menyaksikan mereka
      Menahan sakit yang amat sangat menyiksa
      Wajah-wajah anggun dan gagah perkasa kini tlah buram di telan pil setan
Lalu,,,?
Siapakah yang akan mengemban amanat bangsa ini …?
Akankah mereka yang tlah dikuasai pil setan ?
Ataukah para budak alcohol …?
Tttiiiiiiiiiiiiidddddddaaaaakkkkkkk ….!
            Dahulu mereka bersemangat
            Tapi,pil-pil setan itu tlah membuat mereka terkulai tak berdaya
            Bagai mayat yang dikuasai mandat-mandat
Tuhan …
Berapa banyak lagi teman kami yang akan terpedaya …?
Kami tak ingin lagi mendengar berita tentang mereka
Sekarat dimakan pil setan
sebab,mereka adalah tunas bangsa kami
            sahabat …
            dengarkan jeritan hati yang kian menjerit,
            memannggilmu  menuju rahmamat-Nya

            HENTIKAN …!!!
            Jangan terpedaya dengan nafsu yang tersibak
Sahabat …
Kami tak ingin lagi menyaksikan sebuah pil setan tergores rapi di sekujur tubuhmu
Sahabat,tidakkah engkau kasihan 
dengan bunda pertiwi,
dengan ayah bunda
dan,,
dengan segenap orang yang mencintaimu diatas ribuan butiran Kristal yang membasahi tiap detik nafas hidup mereka

6675

Hari ini aku hanya ingin menulis tentangmu. tentangmu yang tlah mengubah seluruh ruang di hatiku menjadi sekumpulan rasi bintang. aku jatuh cinta pada dia yang tlah lama menghilang dan muncul kembali membalancekan suasana hatiku. menjadikannya asset dalam kas perusahaanku.. aku bahagia..

cukup itu saja saat ini yang mampu ku ungkapkan untukmu 6675

Jumat, 22 November 2013

JEJAK-JEJAK LONTARA


Tuhan.. bantu aku menemukan jejak-jejak Lontara ini kembali. aku kehilangannya. jauuuhh sebelum mentari berganti dengan rembulan.

bahkan, dalam sujud pun aku tak lagi dapat merangkai kata dalam doa yang panjang seperti mereka.
aku gagal meruncingkan tombak semangatku.
tekad yang kuat hilang bersama jejak-jejak kakinya.
ia menorehkan nanah dan darah yang mendidih ketika generasinya punah oleh zaman.
menggelikan, jika ditanya tentang jejak2 budaya LOntara.
generasi masa depan hanya menganga dalam diam dan tanya.
Lalu kemana? kemana akan ku temukan kultur budaya yang melestarikannya ?
sangat sulit, jika pun kutemukan susunannya tak akan seindah senandung mereka yang berkicau dengan jejak-jejak Lontara yang menggetarkan palung jiwa..tak lama lagi..ia akan punah bersama dengan sejarah 

Tetap Saja

seperti mimpi 
ketika lembah memisahkanku dengan populasiku.. 
aku tak sempat memilih. hanya saja memaksaku tuk memngku bulan di siang hari.. 
menyimpan titik2 embun mendung.. 
aku sedih.. 
logika ku bergetar hebat melebihi Tsunami. 
perlhn ia berdebat dengan segemelut cakrawala, kemudian ia meluluhlantakkan hatiku.. 
walau doa mengiringi langkahya, 
tetap saja.. 
aku tak sanggup melepaskan jemarinya.. 
Tuhan bagaimana aku melangkah? 
kakiku tertimbun oleh jiwa-jiwa egoistis.. 
tak peduli bagaimna aku meronta. tetap saja.. 
aku hanyalah seonggok pasir yang melawan angin.. 
percuma, kristal pecah skalipun di hadapannya.. 
tetap saja.. 
ia akan menyergapku tanpa dosa di tengah gemelut & membiarkan aku terapung di tengah danau yg kering. 
ya.. tetap saja 
aku tak berdaya.. 
Tetap saja tak merubah takdirku 
meski hujan & mentari menghalau derap langkahnya..

Selasa, 19 November 2013

Menunggu


Tuhan, aku merindukan rembulan itu lagi ketika matahari terbit. Sudah lama  aku tak melihatnya di sini. Aku bahkan lupa bagaimana ketika ia terakhir kali tersenyum padaku. Tapi percuma, aku yang memintanya sendiri untuk tidak di sini. Kadangkala benci menyeruak. Tapi aku merindukannya ketika aku tersesat. Ya, tepatnya sekarang. Aku menemukan perempatan jalan tapi entah yang mana harus kupijak agar aku tidak tersesat lagi. Aku baru menyadari, saat ini tak ada yang akan menuntunku, aku bahkan lupa, telah mengabaikanmu hingga sesal mendalam mengoyak-ngoyak palung hatiku. Lalu, apa yang harus aku lakukan? Peta tematik cintaku pun tak menemukan letak geografis hatimu, akh… Aku tidak ingin kuncup sebelum mekar. Aku bahkan lelah  hidup tanpa tujuan. Tapi bagaimana mungkin? Inikah kehidupanku yg sebenarnya? Tertekan dibawah arus? Bukan. Aku jiwa yang bebas, berkelana mencari bunga edelweiss. Ah dimana bunga itu? Sudah lama sekali aku tak menemukannya, bunga yang menguatkanku ketika aku rapuh dan tersesat.
Sedikit lagi, aku tlah menghirup baunya yang semerbak. Yah bau bunga yang dilambangkan sebagai keabadian. Mungkin beberapa radius lagi aku bias menemukannya. Tapi mengapa? Ia mulai menghilang saat aku hampir menggenggamnya. Jikalau seperti ini, aku akan bertahan . tidak peduli entah sekarang ataukah 1000 tahun lagi. aku akan tetap mencari dan menemukanmu kembali, membuatmu hinggap di ruang rinduku, bahkan jika bisa aku ingin membuatmu tersesat di hatiku agar aku bisa merangkulmu dengan keajaiban-keajaiban yang kuciptakan. Bahkan aku ingin menunggumu kembali dipersimpangan waktu. (y)

Rabu, 13 November 2013

Mimpi yang terbuang

Di sudut malam
Halilintar menyapu rasaku
meluluh lantakkan segenap inspirasiku
Ia tertelan oleh kata yang tak seharusnya menyeka telinga dan hati
entahlah, Ia menghilang ketika hujan mengguyur bola mataku,
ya Tuhan..
Sanggupkah?
mampukah?
Bisakah?
Bagaimana mungkin?
akan sebuah mimpi yang baru saja menghilang...
meninggalkan harapan yang pupus..
entahlah aku tak ingin mengingatnya kembali
yang aku tau, beberapa detik yang lalu 
aku masih dalam genggamannya menciptakan pelangi dan melukiskannya pada jiwa yang berbeda
menyatukannya jauh di ufuk relungku
sajak-sajak ini kan menjadi saksi
tentang kisah aku, mimpi yg terbuang dan Hari ini...
sudah lama sekali..
bahkan aku tidak ingat kapan  kita terakhir bertemu dan melihat senyum itu terbit dari kedua bibirmu. kedua mata elangmu yang selalu membuatku gugup dan terkadang menatapku tajam. aku ingin sekali tertawa tapi ia tertahan. jujur saja aku gugup. yah sudah lama aku bahkan tak  berharap kau mengingat tentangku yang mengagumimu. tentangku yang selalu mengagumimu lewat goresan-goresan penamu..
dan kemarin aku melihat senyum itu lagi, aku memang tidak pernah berubah, yah ini aku. Aku tetap mengagumimu entah kapan karena aku tak pernah menemukan celah sedikitpun. selama yang aku bisa. tetaplah seperti itu, agar aku tidak punya alasan untuk berhenti menjadikanmu sunset dimataku..



#IH

Rabu, 06 November 2013

Tentang Akuntansi

       Tak ada yang tahu seperti apa siklus akuntansi kehidupanku, kadang aku gagal dalam menyusun laporan keuanganku, bahkan aku tak mampu menemukan titik ketidak balancenya neraca saldoku. yang aku tau hanyalah menginvestasi cintaku dalam bentuk asset.
       Apalagi yang harus aku lakukan untuk mengetahui bagaimana posisi persamaan akuntansi hatimu, agar aku bisa mengerti bagaimana mencari Laba. bahkan sajak-sajak IFRS ataukah PSAK yang indah mengalahkan rasa ini padamu. meski liabilitiesku telah jatuh tempo tapi apa yang harus aku perbuat? aku tak berdaya pada saldo akhir yang nihil. kali ini aku rugi meskipun hatiku tlah berjanji untuk terus bertransaksi padamu, tapi tetap saja kau tak menginginkan prive yang telah ku berikan sebagai kas untuk menghilangkan beban-beban di kehidupanmu.. harus bagaimana lagi aku menunjukkan sejumlah  faktur cintaku padamu? aku tidak punya persediaan barang lagi, hanya buku besar yang tertinggal di sini agar kau bisa berjiwa besar mengakui bahwa aku adalah investasi jangka panjang bagimu. yah, aku hanya ingin menunjukkan betapa besar modal cintaku padamu walau kau tidak membuktikannya dengan ayat jurnal penyesuaian, tapi yakinlah cintaku tidak seperti Fixed asset yang bisa kau transaksikan pada investor lain sesukamu. aku tulus layaknya proses Akuntansi.

Meaning of Pinkerztt


Positif : ketenangan fisik, memelihara, kehangatan, kewanitaan, cinta, dan menjadi simbol kelangsungan hidup manusia.

Negatif : Inhibisi, kelemahan fisik.

All about pink :)
Warna yang disukai banyak wanita ini menyiratkan sesuatu yang lembut dan menenangkan. Pink juga mempengaruhi kita secara fisik, tapi menenangkan, bukan merangsang. Pink adalah warna kuat, secara psikologis. Ini merupakan prinsip feminin, dan merupakan symbol kelangsungan hidup manusia. 


Salam pinkerz sahabat :)


Jumat, 01 November 2013

Insyaf Aku

Aku berjalan diatas janji sang pencipta
Menyusuri semak kegelisahan bersama dengan segunung noda
Aku dilumat kegoncangan diujung lorong waktu
Walau tawa memecah kesunyiaan
Tapi aku berharap bisa menahann godaan itu lagi
Jiwaku sebatang kara terhempas oleh debu jalanan
Terkadang asap kendaraan itu pun mengepul diwajahku
Aku mulai usang diterkam oleh dosa dan kekhilafan
Menjamur pada senandung fana
Haus akan taubatan Nasyuhah…
Sgala yang ku damba dalam jihad yang suci ternodai oleh gunung hitam jejak-jejak kaki ku
Tuhanku, aku hilang bentuk dan remuk oleh dosa
Insyaf aku,
Terbayang akan jahannam yang membakar jasadku..
Melumatkan tulang belulang,
Insyaf aku,
Ketika pintu taubat memanggilku dalam qiyamullail.

Dunia yang berbeda

Ketika senja menjemput malam
Sunyi..
Sepi..
Sendiri…
Terpaku menatap pergantian waktu
Sementara sunset mulai beranjak,
Perlahan mengantarkan panca inderaku kepada  kau yang ada di ufuk bulan
Hilang…
Remuk…
Rapuh…
Kosong…
Retak…
Jiwamu mengambang diantara hembusan ombak yang melambai
Nafasmu tersenggal di antara arwah yang melayang tanpa dosa
Menyesal …
Menjerit …
Itu yang kau  bisa…
Akhhh tiba-tiba saja aku ingin merangkulmu walau ku tau kita dalam dunia yang berbeda
Antara senja dan malam yang mencekik.

Mengurungmu sendiri di balik jeruji penyesalan…
Tuhan mengerti tapi kau tak pernah mencari jalanmu..
Andai saja, aku ingin menemukanmu dalam mega yang berkibar cahaya nyata sebuah lensa,,
Aku ingin menjadi bunga di kehidupanmu..
Langkahku terhenti karena kita berada di dunia yang berbeda

Kepada Mars

Kepada Mars

Mars...
ini adalah surat ke dua ku padamu..
aku tidak dapat lagi melihat walau aku tak buta,
tapi entahlah, aku masih mencari ketulusan hati..
aku tidak akan pernah berhenti sebelum smuanya bersahabat ..
kembali ku genggam..
sekarang aku tlah berani bermimpi..
ini bukan tentang sebuah angan tapi keinginan..
ia hadir ketika aku hendak tumbang, terbantai oleh gergaji-gergaji kecil
Mars, tapi aku bingung
ia masih saja menemuiku...
datang padaku saat hatinya terkoyak oleh waktu..
tapi mengapa keberanianku mati?
dimana ia terkubur bersama fosil-fosil ribuan tahun silam..

ahhh bagaimana ini?
jika pada saatnya, hujan akan menjadi timah panas
aku pun tak mampu mengatakan TIDAK
mengapa?
cinta yang membuatku lemah,
terkikis perlahan, namun benci ku padanya terganti ..
aku ingin menghempaskannya, seperti ketika laut marah pada ombak
tapi bagaimana?
beritahu aku cara yang tepat..
dimana aku harus menemukannya agar ia terganti oleh ketulusan..

Mars,,
aku rindu pada suara termerdu yang sering ku dengar..
mengalun bersama hembusan nafasku...
aku ingin mengulanginya..
mustahil...
aku tlah terlampau jauh bersama jejak-jejak kaki mimpiku...
kembali berarti aku gagal..
tapi aku rindu padanya
walau ia berada di dunia yang berbeda
padaku ia bersandar dan dimatanya ku temukan ketulusan yang tak terhingga..
seperti populasi oksigen..

Jenuh

Senja  beranjak ..
Tak berarti apa-apa
Tersenyum pun tak mampu.
Kuncup kembali sebelum mekar
Ia rapuh dalam goresan nanah yang mendidih.
Lelah mengayomi nalurinya..
Ahhh …
menyerah saja..
cukup terhenti dalam genangan putus asa

Rapuh aku

bertahan aku sendiri dalam belantara
tenggelam diantara larutnya pasang
mencoba memahami
mengerti keegoisan
andai cinta yakinkan kau tentangku
aku tak kan pernah tersesat
kau dimana, saat kubuka jendela dan tersadar dari mimpi yang terbuang..
achhh...
benarkah,,???
rasanya aku tak ingin terbangun dan menemukan jalan keluar dari belantara ini
karena disini aku menemukanmu...
selamanya,..
tapi waktu memintaku Tuhan...
aku mencintai ia, tapi egoistis menjadi tahta dalam kabut yang tebal...
bagaimana mungkin ? menyatukan keretakanku?
bagaimana? tanyaku pada sang fajar...
tak ingin lagi berbalik arah, akan ku genggam kau dalm relungku
walau dirimu tak lagi disisiku...

Takut

Takut


Aku tak dapat melihat sisi lain itu,
Entahlah, kemana perginya sang bukit mengembara,
Sisi lain itu menghilang saat kataku menggores darah dalam nanah yang mendidih.
Aku sangat takut melihatnya,
Aku tlah mencoba bicara padanya melalui maaf yang agak kaku terucap.
Lisanku terlalu lancang,
Perasaannya menggebu mengikuti tandusnya gunung sahara.
Membara bagai jahannam yang tak kunjung padam
Aku takut jika esok ia menemuiku di persimpangan,
lalu iblis-iblis itu tlah menguasai putihnya hati,
Kemanakah aku harus berlabuh?
Sementara laut flores tak ingin meminjamkan ombaknya untukku.
Sebuah penyesalan melintas dihadapanku
Aaahhhhhhh, mengapa ?
Aku ingin berlari , percuma kaki ini tertimbun bebatuan…
Dalam asa yang hampir rapuh,
keyakinan berdiri kokoh,
mengingatkanku pada sang pemilik jiwa-jiwa yang di kuasai oleh Nafsu,
kembalilah dalam fitrah-Nya
Dan doa pun terangkai dalam gemersik getaran hati dan jasmani ku
Sesaat kemudian palung hati berteriak,
sudaaahhhh, maaafffff….
Aku khilafff.,.