Jumat, 22 November 2013
Tetap Saja
seperti mimpi
ketika lembah memisahkanku dengan populasiku..
aku tak sempat memilih. hanya saja memaksaku tuk memngku bulan di siang hari..
menyimpan titik2 embun mendung..
aku sedih..
logika ku bergetar hebat melebihi Tsunami.
perlhn ia berdebat dengan segemelut cakrawala, kemudian ia meluluhlantakkan hatiku..
walau doa mengiringi langkahya,
tetap saja..
aku tak sanggup melepaskan jemarinya..
Tuhan bagaimana aku melangkah?
kakiku tertimbun oleh jiwa-jiwa egoistis..
tak peduli bagaimna aku meronta. tetap saja..
aku hanyalah seonggok pasir yang melawan angin..
percuma, kristal pecah skalipun di hadapannya..
tetap saja..
ia akan menyergapku tanpa dosa di tengah gemelut & membiarkan aku terapung di tengah danau yg kering.
ya.. tetap saja
aku tak berdaya..
Tetap saja tak merubah takdirku
meski hujan & mentari menghalau derap langkahnya..
ketika lembah memisahkanku dengan populasiku..
aku tak sempat memilih. hanya saja memaksaku tuk memngku bulan di siang hari..
menyimpan titik2 embun mendung..
aku sedih..
logika ku bergetar hebat melebihi Tsunami.
perlhn ia berdebat dengan segemelut cakrawala, kemudian ia meluluhlantakkan hatiku..
walau doa mengiringi langkahya,
tetap saja..
aku tak sanggup melepaskan jemarinya..
Tuhan bagaimana aku melangkah?
kakiku tertimbun oleh jiwa-jiwa egoistis..
tak peduli bagaimna aku meronta. tetap saja..
aku hanyalah seonggok pasir yang melawan angin..
percuma, kristal pecah skalipun di hadapannya..
tetap saja..
ia akan menyergapku tanpa dosa di tengah gemelut & membiarkan aku terapung di tengah danau yg kering.
ya.. tetap saja
aku tak berdaya..
Tetap saja tak merubah takdirku
meski hujan & mentari menghalau derap langkahnya..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar