Selasa, 19 November 2013
Menunggu
Tuhan, aku merindukan rembulan itu lagi ketika matahari
terbit. Sudah lama aku tak melihatnya di
sini. Aku bahkan lupa bagaimana ketika ia terakhir kali tersenyum padaku. Tapi
percuma, aku yang memintanya sendiri untuk tidak di sini. Kadangkala benci
menyeruak. Tapi aku merindukannya ketika aku tersesat. Ya, tepatnya sekarang.
Aku menemukan perempatan jalan tapi entah yang mana harus kupijak agar aku tidak
tersesat lagi. Aku baru menyadari, saat ini tak ada yang akan menuntunku, aku
bahkan lupa, telah mengabaikanmu hingga sesal mendalam mengoyak-ngoyak palung
hatiku. Lalu, apa yang harus aku lakukan? Peta tematik cintaku pun tak
menemukan letak geografis hatimu, akh… Aku tidak ingin kuncup sebelum mekar.
Aku bahkan lelah hidup tanpa tujuan.
Tapi bagaimana mungkin? Inikah kehidupanku yg sebenarnya? Tertekan dibawah
arus? Bukan. Aku jiwa yang bebas, berkelana mencari bunga edelweiss. Ah dimana
bunga itu? Sudah lama sekali aku tak menemukannya, bunga yang menguatkanku
ketika aku rapuh dan tersesat.
Sedikit lagi, aku tlah menghirup
baunya yang semerbak. Yah bau bunga yang dilambangkan sebagai keabadian.
Mungkin beberapa radius lagi aku bias menemukannya. Tapi mengapa? Ia mulai
menghilang saat aku hampir menggenggamnya. Jikalau seperti ini, aku akan
bertahan . tidak peduli entah sekarang ataukah 1000 tahun lagi. aku akan tetap
mencari dan menemukanmu kembali, membuatmu hinggap di ruang rinduku, bahkan
jika bisa aku ingin membuatmu tersesat di hatiku agar aku bisa merangkulmu dengan
keajaiban-keajaiban yang kuciptakan. Bahkan aku ingin menunggumu kembali
dipersimpangan waktu. (y)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar